Damar, Potensi yang Terabaikan di Tanah Kna

panen damar
Aktifitas Suku Kna saat latihan panen damar di Kampung Manggroholo Juli 2004

Suku Kna adalah salah satu suku yang bermukim di daerah Distrik Saifi, Kabupaten Sorong Selatan. Suku Kna hidup tersebar di empat kampung yakni Manggroholo, Sira, Kwowok dan Mlaswat. Ada 9 marga (keret) dalam suku Kna. Mereka memiliki wilayah adat berupa hutan perawan ribuan hektar membentang dari Sungai Seremuk di utara hingga Sungai Kohoin di selatan. Selain potensi kayu, didalamnya tumbuh pohon damar yang sebagian besar tersebar di bagian selatan.

Dari hasil studi potensi hutan yang dilaksanakan Badan Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Papua (UNIPA) Manokwari pada akhir tahun 2014 menunjukkan adanya potensi damar di wilayah adat Kna sangat melimpah. Potensi rata-rata damar di wilayah Manggroholo dan sekitarnya adalah lebih dari 100 individu per-hektar atau setara 182m3/Ha. Jumah ini cukup layak untuk dikembangkan sebagai komoditas hasil hutan bukan kayu untuk menunjang perekonomian warga kampung.

Menurut warga setempat, Damar diwilayah adat mereka dikembangkan oleh Belanda puluhan tahun lalu. Setelah tumbuh dan berkembang, masyarakat bisa memanen getah damar dan dijual pada zaman itu. Hingga akhirnya pasar damar meredup seiring perginya Pemerintah Belanda. Pohon damar tetap tubuh dan berkembang hingga akhirnya lebih tampak seperti hutan damar. Tahun 2013 ketika Bentara Papua melakukan pemetaan partisipatif di wilayah Marga Sremere, saya menyaksikan sendiri hutan damar yang tumbuh subur di hutan. Pohon damar yang tinggi dan besar berdiri kokoh tak terjamah manusia. Bahkan di dalam hutan sering dijumpai getah damar yang keluar secara alami dari pohon damar . Menggunung hingga beberapa meter.

Selepas kepergian Belanda, damar masih dipergunakan sebagai pengganti pelita. Warga kampung menggunakan getah damar sebagai alat penerang dimalam hari. Bahkan ketika berburu di hutan. Getah damar kering dihancurkan dan dibungkus sedemikian rupa dengan mengunakan daun rotan hingga padat agar awet saat digunakan. Kini kehadiran alat penerang seperti senter sudah menggatikan peran damar terutama dalam aktivitas berburu di hutan. Kini alat penerang damar tersebut sudah jarang digunakan. Hanya sebagai emergensi jika listrik dari generator kampung mati dan minyak tanah habis dalam kaleng pelita.

Warga kampung mengaku jika pasar damar tidak ada lagi. Meski di Sorong Selatan terdapat banyak potensi dampar terutama di Distrik Bariat dan Saifi namun hingga saat ini pasar untuk getah damar belum memadai. Di Teminabuan, ibu kota Kabupaten Sorong Selatan, masih ada satu dua pengepul getah damar, harga yang tawarkan masih relatif rendah yakni Rp.5000/ kg. Sangat tidak ekonomis mengingat jarak kampung ke Teminabuan cukup jauh. Belum lagi jarak ke hutan damar dari kampung yang butuh jalan kaki berjam-jam untuk tiba disana.

Pemerintah daerah melalui kepala dinas juga mengeluhkan pasar untuk hasil hutan bukan kayu seperti getah damar yang melimpah. Kami perna bertemu dan mendiskusikannya dengan kepala dinas Kehutan Sorong Selatan. Mereka belum berhasil menemukan pasar. Namun persoalan utama saat ini bukanhanya soal pasar. Bentara Perna melobi beberapa pembeli diluar Papua dan berhasil menemukan pasar yakni seorang pembeli di Jakarta. Meski mendapat kepastian pasar, kami sendiri belum berhasil meyakinkan warga untuk kembali memanen getah damar sehingga masalah lainnya adalah masalah keberlanjutan produksi getah damar itu sendiri.

LSM Bentara Papua selama 3 tahun terakhir bekerja di wilayah adat Suku Kna. Sebagai lembaga pendamping, Bentara bersama warga kampung mendorong adanya pengelolaan hutan suku Kna secara mandiri dan berkelanjutan. Melihat potensi damar masih bisa dikembangkan kembali, maka pada tahun 2014 Bentara juga sudah melaksanakan pelatihan cara menyadap getah damar yang baik dan benar sekaligus medatangkan petani damar yang berhasil dari Lampung. Bentara juga memberi rangsangan ke warga kampung berupa pemberian peralatan sadap damar kepada masing-masing warga .

Tidak sampai disitu, Bentara berusaha membantu warga dengan mendirikan koperasi agar bisa mewadahi tata niaga damar kedepannya. Suntikan modal untuk pembelian damar juga sudah kami berikan kepada pihak koperasi dan masyarakat mulai kembali memanen damar. Sebagian besar masih mengambil damar alam di hutan namun beberapa diantara mereka sudah mulai menerapkan cara memanen getah damar yang baik dan benar. Bentara berharap, potensi damar yang begitu melimpah di tana Kna yang selama ini terabaikan bisa dikembangkan untuk meningkatkan perekonomian warga . Namun, hal itu hanya akan bisa terwujud jika ada kerja sama yang baik dan berkelanjutan antar masyarakat adat, pemerintah daerah, dan lembaga pendamping. (Amos Sumbung)

2 thoughts on “Damar, Potensi yang Terabaikan di Tanah Kna

  • 14 Oktober 2016 at 10:42 pm
    Permalink

    Saya tertarik dengan potensi damar di kabupaten Sorong Selatan, saya siap melaksanakan kerjasama untuk membeli/menampung getah pohon damar dari suku Kna. Saya bersedia membeli dengan harga Rp. 7.000/Kg franco makassar dengan kualitas getah damar bersih tidak bercampur dengan tanah dan kayu. Apabila bapak berminat, harpa menhubungi saya Mohammad Tjatrajady, S.Hut, No HP 081334302444

    Reply
    • 24 Januari 2017 at 12:43 pm
      Permalink

      Hi M. Tjatrajady,

      Terima kasih untuk respond-nya, maaf baru membalas kebetulan website ini sempat bermasalah sehingga baru aktif di awal 2017. Informasi ini tentunya sangat penting untuk segera ditinjaklanjuti oleh komunitas dan juga pendamping di Sorong Selatan (Papua Barat). No HP anda akan saya forward kepada kawan’s disana. Jika ada informasi terbaru mohon diupdate kepada kami.

      salam,

      Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *